Jumat, 20 Januari 2012

NEGERI KONGKALINGKONG



Indonesia adalah negara kaya akan sumber daya. Sumber daya manusia merupakan salah satunya. Kalau dilihat perjalanan bangsa Indonesia dengan sumber daya manusianya sungguh sangat membanggakan. Betapa banyak olimpiade ilmiah, kompetisi olahraga dan banyak kompetisi lain yang dimenangkan negeri ini. Perhatian terhadap sumber daya manusia tidak dapat dipungkiri adalah satu hal yang begitu berarti bagi suatu bangsa. Dengan sumber daya mansuia harusnya negeri ini dapat melesat cepat, akselerasi pembangunan, dan menjadi negeri berdaya saing international.
Namun sungguh sayang, ditengah prestasi baik dihasilkan oleh manusia negeri, ada ruang paradoks yang begitu mengecewakan, bahwa dengan sumber daya inilah negeri ini terpuruk. Lihat saja masalah memalukan negeri ini dari tahun ketahun. Dari tahun 2009 sudah dikagetkan dengan masalah sosial, ekonomi, pendidikan, dan politik. Sampai sekarang masalah ini pun masih belum tuntas. Ada keinginan kuat untuk tidak menyelesaikan masalah tersebut, yang memalukan lagi dari setiap masalah, modus operandi pelakunya hampir sama. Kongkalingkong dibelakang layar, deal-deal kepentingan antra pejabat dan pengusaha, dan ketidak transparan membuat masalah semakin sulit diselesaikan. Secepatnya kalau negeri ini mau selamat, harus diilakukan reformasi birokrasi, tranparansi informasi, dan pemihakan terhadap kepentingan rakyat lebih didahulukan. Tidak perlu menunggu arwah para pahlawan negeri bangkit kembali mengingatkan begitu banyak kesalahan yang ada.


Sumber gambar: http://nbnewsmakers.blogspot.com/2011/12/gila-kebobrokan-pns-mau-jadi-pns-masuk.html

Minggu, 15 Januari 2012

OPTIMALITAS PARETO: A HUMAN CRIME


Sejak abad 17 dan 18, kontribusi ilmu ekonomi konvensional tidak dapat dipungkiri. Pada tahap ini ilmu ekonomi menemukan sofistifikasi ideal dengan dua tujuan utamanya. Dua tujuan itu bisa dilihat dari tujuan positif dan normatif yang dicanangkan ilmu ekonomi. Secara positif ilmu ekonomi bertujuan untuk ”efisiensi” dan ”pemerataan” distribusi sumber daya. Adapun secara normatif ilmu ekonomi ditujukan untuk kesejahteraan manusia, terbukannya kesempatan kerja, optimalisasi pertumbuhan ekonomi dan tujuan normatif lainnya.
Namun sungguh sayang, dua tujuan ini hanya menjadi impian yang sampai sekarang masih dipertanyakan dan sulit untuk diterapkan karena sistem ekonomi yang dipakai dalam suatu negara pada saat ini tidak menghendaki hal itu dan lebih menekankan kepada pandangan pencerahan positivistik. Pada dasarnya pandangan positivistik lebih menekankan pada pemenuhan kepentingan individu dan cenderung mengabaikan kesejahteraan sosial secara umum.
Berbicara pemenuhan kepentingan pribadi, ada teori Ekonomi yang dikenal dengan Optimalitas Pareto. Optimalitas Pareto mengatakan bahwa selama pemenuhan kepentingan pribadi tidak membuat orang lain menjadi jelek atau lebik jelek maka pemenuhan tersebut tidak mengapa. Namun, pada perjalanannya teori ini menyimpang, karena kebanyakan pemenuhan kepentingan yang ada diperoleh dengan mengabaikan kepentingan sosial masyarakat, sehingga menyebabkan orang lain menjadi tidak baik dalam pemenuhan kepentingan, bahkan kebutuhan sosialnya.
Dengan pandangan optimalitas pareto ini pula maka terjadilah banyak kejahatan kemanusian. Salah satu kejahatan kemanusia yang sangat menonjol adalah semakin terbuka lebarnya jurang pemisah antara orang kaya dan orang miskin. Denga teori ini, orang kaya akan menggap bahwa apa yang diperoleh adalah hasil usahanya sendiri tanpa adanya pengorbanan orang lain didalamnya, sehingga menggerus ekses sosial didalamnya. Dan masih banyak lagi kejahatan kemanusian yang ditimbulkan seperti dekadensi moral, budaya konsumtif yang tinggi, dan semakin jauhnya seseorang dari keluargannya. Sekali lagi Optimalitas Pareto memberikan kejahatan kemanusiaan.
Oleh karena itu perlu adanya suatu sistem ekonomi yang tidak hanya menekankan pada pemenuhan kepentingan pribadi, tetapi juga harus memperhatikan aspek sosial seperti kesejahteraan masyarakat melalui pertumbuhan ekonomi masyarakat. Lebih penting lagi bagaimana sistem itu tidak hanya beriorentasi pemenuhan kebutuhan keduniaan, tetapi memenuhi kebutuhan yang lebih jauh lagi, yaitu kebutuhan transedental manusia.

Jumat, 13 Januari 2012

KEGAGALAN WALL STREET


Blum lama ini, kita dikagetkan dengan Demo Wall Street di Amerika. Demo yang cukup membuat warga dunia memberikan perhatiannya. Mengapa tidak, system kapitalisme yang selama ini diagung-agungkan di negaranya kini di Demo oleh warga negaranya sendiri. Paling tidak ada dua alasan mengapa system ini di Demo. Pertama system kapitalisme yang ada di Amerika pada saat itu hanya menambah hutang jangka panjang (Debt Mortgage) yang diakibatkan oleh ulah para spekulan pada sector moneter. Sehingga yang terjadi adalah dana yang harusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat habis dipakai untuk menutupi hutang. Kedua, karena dengan adanya hutang jangka panjang ini maka para mahasiswa tidak dapat membayar hutang studi mereka karena tingkat bunga yang begitu tinggi.
Sekilas hal ini sangat menarik untuk dicermati, dan patut untuk menjadi bahan runungan. Mengapa menjadi menarik untuk dicermati karena hal sedikit ini menandakan wajah buram masa depan sistem ekonomi kapitalisme. Ada satu hal yang membuat sistem ekonomi kapitalisme tidak dapat bertahan lama karena keberpihakannya terhadap sektor riil sangat kurang, dan tidak adanya ketersambungan antara ekonomi mikro dan makronya. Ibarat sebuah balon, sektor riil dalam ekonomi kapitalisme hanya bagian kecil yang ada didalam balon tersebut. Sehingga sewaktu-waktu ketika terbang tinggi balon tersebut bisa pecah, dan bagitulah sistem monoternya.
Hal ini sesungguhnya membawa dampak tidak baik, baik bagi masyarakat pembela ekonomi kapitalis maupun yang bukan. Dan hal inilah yang tidak diperbolehkan. Sedikit meninggalkan ekonomi kapitalisme dengan wajah buramnya, disisi lain ada suatu sistem yang datang dengan konsep kesejahteraan yang menjamin tepenuhinya sektor-sektor riil, yaitu sistem ekonomi islam. Dalam sistem ekonomi islam, perhatiaan yang diberikan tidak hanya pada sektor moneter saja, tapi juga pada sektor riil yang menjadi basis pembangunan ekonomi.
Mengapa sektor riil menajdi suatu hal yang patut diperhatikan, karena pada sektor ini sistem ekonomi berhubunan langsung dengan masyarakat yang menjadi inti pembangunan ekonomi. Ketika sektor ini digairahkan, maka sama hanlya dengan menggairahkan pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat. Pertumbuhan inilah yang kemudian menjadi penopang untuk bergairahnya pula sektor moneter atau pun sektor makro. Melihat hal ini, maka sudah sepatutnya sistem ekonomi yang ada sekarang di Rekonstruksi kembali, agar pembangunan ekonomi didasarkan pada orientasi pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Kamis, 05 Januari 2012

HOTEL SAPHIR DAN TUKANG BECAK




Hotel Saphir adalah salah satu hotel mewah di kota Jogjakarta. Lumayan merogek kocek untuk bisa menginap di hotel ini. Kalau melihat hotel ini, mungkin terbanyang di benak kita bahwa, pemilik hotel ini adalah orang yang punya duit. Namun ditengah megahnya hotel ini ada fenomena menarikm, yaitu tukan becak disekeliling hotel itu yang bisa tidur dimanapun tanpa merogek kocek dengan banyak.
Ada satu fenomena yang menarik, bahwa disamping bangunan yang megah tempat para orang kaya untuk menginap dengan biaya yang tidak sedikit, ada sekelompok masyarakat yang rela tidur dibecaknya hanya untuk menyambung hidup. Dari fenomena sederhana ini, terlihat kesenjangan ekonomi antara kaum miskin dak kaya. Sungguh tragis, ditengah-tengah sistem ekonomi yang mengarahkan pembangunan ekonominya pada perataan ekonomi masyarakat. Apakah perataan yang ada hanya untuk kalangan elit, tapi tidak untuk kalangan miskin? Sungguh Tragis.

Selasa, 27 Desember 2011

TERJAJAH SETELAH PENJAJAHAN




Perang fisik telah usai. Penjajah-penjajah pun telah pergi meninggalkan negeri ini. Namun ada luka yang tidak bisa dihapuskan yang dibawa oleh para penjajah. Belanda misalnya. Ketika Belanda menjajah Indonesia, tidak hanya dalam militer, tetapi juga dalam ekonomi. Kita bisa melihat dengan adanya VOC. Vereenigde Oostindische Compagnie (Perserikatan Perusahaan Hindia Timur atau Perusahaan Hindia Timur Belanda) yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 adalah perusahaan Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia.
Sejak kolonialisme melalui VOC ini dimulai pada tahun 1602, belanda mulai menerapkan politik drainage selama kurun waktu 197 tahun (1602-1799). Selama kurun waktu tersebut Belanda mulai mencapkan kuku kekuasaannya di Indonesia. Salah satu tujuan dari pengusaan kekuasaan oleh Belanda adalah pengerukan kekayaan alam Indonesia sebanyak-banyaknya. Kekayaan alam dieksploitasi, masyarakat Indonesia dijadikan Budak untuk memenuhi kebutuhan Belanda. Sehingga yang terjadi adalah bangsa Indonesia menjadi menderita ditanah Airnya sendiri.
Begitulah terminologi penjajahan. Pergi kesuatu daerah atau bangsa, membumihanguskan masyaraktnya, mengusai, lalu mengeksploitasi kekayaannya. Itulah salah satu luka yang dibawa oleh penjajahan dalam hal ini belanda. Namun apa artinya luka, kalau tidak diobati dan dijadikan sebuah pelajaran. Namun, sangat disayangkan, alih-laih mengambil pelajaran, Indonesia malah mendekati dan memminta tolong pada kolonialisme baru.
Lihat saja dengan terlibatnya Indonesia pada suatu perjanjian yaitu “Washington Consensus” yang tidak lain hal ini adalah wajah kolonialisme baru yang lebih halus. Tidak terlihat secara nyata, tetapi sangat mematikan. Bahkan ada adigium yang menyatakan bahwa tidak mungkin seseorang akan menjadi presiden Indonesia ketika tidak setuju dengan perjanjian ini. Perjanjian ini mengakibatkan Indonesia terjajah lagi setelah penjajahan.
Dampak dari penjajian ini bisa dilihat dengan bergejolaknya Papua dengan kasus Freeportnya. Sebenarnya kalau mau jujur, masyarakat Papua tidak mendapatkan apa-apa dari Perusahaan tersebut selain kesengsaraan dan kerugian yang besar karena kekayaan alam mereka dieksploitasi besar-besaran. Dan alasan bahwa Freeport dapat meningkatkan pendapatan Negara pun sungguh sangat diluar batas kemanusian. Betapa tidak, Indonesia yang memiliki kekayaan alam, hanya dikasih pajak yang tidak sebanding besarnya dengan kekayaan alam yang dikeruk oleh Freeport. Begitulah wajah penjajahan baru, meninggalkan luka yang tidak hanya sementara, tetapi juga berkepanjangan. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah melati kemandirian untuk tidak selalu bergantung pada orang lain atau negara lain, dengan cara mendukung program kemandirian ekonomi masyarakat. Allahu’alam.