Senin, 15 April 2013

Ada Eksploitasi Anak di Acara TV

juraghandesain.com (tanda silang dibuat penulis)

Kemarin (14/04/2013) saat makan siang di salah satu warung belakang kampus, diiringi hujan yang turun begitu deras, dan juga ditemani salah satu acara dibalik layar TV. Ada satu hal menarik ketika menyaksikan acara TV itu, teman yang juga ikut makan siang bersama meyeletup dengan nada agak geram “Ini ekspolitasi anak-anak namanya”.

            Memang saat itu yang sedang ditonton ialah acara atau program TV dengan menampilkan anak-anak sebagai peserta dengan tagline acara Little Miss Indonesia. Dalam acara tersebut anak-anak yang belum puluhan tahun itu disuruh untuk unjuk kemampuan yang mereka miliki, dari tarik suara sampai main musik. Juga untuk memoles penampilan mereka, para orang tua memformat pekaian anak-anaknya dengan penampilan ala masa kini. Dan tak jarang, maaf!, memakaikan pakaian yang menonjolkan bagian tubuh yang seharusnya diajarkan oleh orang tua untuk ditutup.

            Acara semacam ini sebenarnya sejak lama sudah beredar di stasiun-stasiun TV. Tetapi terkadang jarang disadari masyarakat, bahwa sebenarnya acara semacam ini berdampak amoralisasi jangka panjang pada anak. Betapa tidak, anak-anak yang masih belia seperti itu seharusnya di didik lebih matang agar menjadi penerus bangsa oleh orang tuanya “dipaksa” untuk ikut kompetisi yang tentunya secara tidak langsung menyita waktu anak-anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai lingkungannya.

            Selain itu, mungkin patut disadari ialah, acara semacam lebih menguntungkan pemilik TV daripada masyarakat secara umum. Bisa dihitung berapa kemudian nominal rupiah yang masuk ke kantong pemilik TV dari iklan pada program acara tersebut. Tidak perlu dibuktikan disini, toh orang-orang umumnya juga sudah sangat mafhum dengan hal ini. Tentunya sebagai masyarakat biasa kita juga bertanya-tanya, ada ya acara semacam ini?
            

Sabtu, 13 April 2013

X-Factor: Kewajiban Berkarakter?


Tayangan TV memang begitu adanya. Berpengaruh ke alam bawah sadar masyarakat dengan atau tanpa penyaringan (Screening) terlebih dahulu. Tayangan TV pada banyak hal memang membentuk opini dan perubahan tingkah sosial masyarakat. Belakangan tayangan TV  tak lagi sekadar menjadi alat hiburan, pencarian nilai-nilai pun banyak dicari melaluinya. Penampilan para entertain penghibur panggung dalam tayangan menjadi suatu kewajiban bagi stasiun TV untuk mencipta nilai tersendiri.
rcti.tv
Pengemasan nilai-nilai tertentu bisa di-manufaktur oleh stasiun TV lewat program tertentu. Misalnya program yang belakangan banyak mencuri perhatian masyarakat ialah X-Factor. Program pencarian bakat ini tanpa atau dengan sadar telah membentuk nilai yang mempengaruhi alam bawah sadar. Program ini paling tidak mengajarkan nilai bahwa  kalau ingin sukses harus punya “karakter”, dalam arti yang luas orang harus mengekslusifkan dirinya terlebih dahulu dengan dirinya kemudian baru bisa tampil ke khalayak umum dengan karakter yang ia punya.
Pengajaran nilai bahwa setiap orang harus punya “karater” pada program ini bukanlah hal negatif, karena memang begitulah tuntutan dunia global. Bahwa kedepan setiap orang harus punya ciri khas sendiri yang ingin ditampilkan adalah sah-sah saja. Hal itupulah yang kemudian akan membedakan ia dengan yang lainnya.
Tanpa mengurangi nilai tersebut, hal itu coba kita tarik lagi pada permasalah yang lebih luas. Bahwa “karakter” bukan hanya menjadi faktor penentu kesuksesan pada program TV pencarian bakat seperti X-factor. Merupakan suatu keharusan pada tataran global atau dunia saat adanya keberadaan “karakter”. Lihat saja pada satu hal, misalnya Ekonomi.
Perkembangan ekonomi dunia saat ini menuntut adanya liberalisasi baik dari segi ekspor, impor, tenaga kerja, teknologi, jasa, permodalan, legalitas, dan lain-lain. Semua itu dicitakan agar terjadi kemudahan dalam melakukan transaksi ekonomi antara negara-negara di dunia. Satu hal yang menarik dari perkembangan ekonomi saat ini dari segi makro, bahwa liberalisasi pada banyak sektor tidak hanya menuntut kekuatan ekonomi suatu negara, pada skala mikro: individu atau organisasi, liberalisasi menuntut adanya “karakter” tertentu yang menjadi andalan.
Lagi-lagi pada dasarnya siapa yang punya “karakter” maka ialah yang akan bertahan dalam pergulatan kehidupan. Cina merupakan negara yang mencohtkan hal ini dengan baik. Dengan karakter yang digali dari nilai-nilai konfusianisme, Cina berhasil menghentakkan Amerika sebagai negara adikuasa. Cina pun dengan karakter yang ia punya dapat berdiferensiasi dari negara lain. Pada skala mikro: individu dan organisasi, Cina dapat dikatakan kuat. Lihat saja betapa banyak negara yang dikuasai ekonominya oleh segelintir orang Cina.
Mau tidak mau, suka tidak suka, jika ingin sukses dalam setiap pergulatan apalagi pergulatan ekonomi, adanya “karakter” menjadi salah satu hal penentu kesuksesan. Tentunya hal ini harus dibangun sejak awal dan butuh kesabaran lebih.

Rabu, 12 Desember 2012

Menepis “Generasi Tunduk Kebawah”



Saat membaca salah satu status seorang teman di facebook, saya tersentak  kaget dan sedikit heran, karena mungkin kondisi ini sudah sangat menggejala  ditengah-tengah masyarakat apalagi masyarakat perkotaan. Kira-kira bunyi statusnya kurang lebih seperti ini:
Peradaban masa depan sangat ditentukan oleh kualitas anak-anak kita...disitulah dharma terbaikmu hai perempuan *Menatap ratusan seragam oranye yang nyaris semuanya asyik dgn BB :)* #Mishfalah, HUT DWP Ke-13#” (Status Facebook, 12/12/2012)[1]
Kemudahan teknologi seakan menjadi Tuhan baru saat ini, selingan-selingan teknologi yang kebablasan tanpa kontrol serasa adalah hal biasa. Sampai tak ingat waktu, tak ingat teman, tak ingat keluarga, apalagi lingkungan sosial masyarakatnya. Tujuan teknologi yang tadinya baik akhirnya menjadi buruk karena sikap pemakainya yang tak tepat.  Tak ada larangan dalam berteknologi, karena teknologi dapat membuat kemudahan-kemudahan. Karena teknologi pulalah keterhubungan dengan dunia luar diri bisa begitu mudah.
Menganjurkan penghujatan terhadap teknologi pun bukanlah solusi yang tepat. Karena produk revolusi industri ini membawa berkah tersendiri yang patut disyukuri. Betapa tidak karena dengannyalah dunia menjadi serasa kecil, gudang ilmu terbuka, semua orang bebas berekspresi, bahkan dengan adanya sosial media kegiatan seseorang dari bangun tidur sampai tidur lagi seakan bukan masalah pribadi lagi.
Pesatnya perkembangan teknologi didukung dengan tumbuhnya ekonomi memudahkan kepemilikan masyarakat terhadap kepemilikan teknologi. Dulu misalnya orang-orang punya handphone disatu kelurahan bisa dihitung dengan jari. Seiring dengan kemudahan ekonomi dan teknologi sekarang orang punya handphone lebih dari satu bukanlah hal yang mewah lagi. Bahkan sekarang handphone dengan vitur yang tinggi bisa didapat dengan harga yang murah. Dalam penggunaan handphone Indonesia masuk dalam urutan keempat setelah Cina, India, dan Amerika.  Jumlah handphone di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 250,100,000  buah handphone. Dengan jumlah penduduk mencapai  237,556,363  maka perbandingan  jumlah penduduk yang menggunakan handphone mencapai 105.28%,[2] atau dengan kata lain jumlah handphone di Indonesia lebih banyak dari jumlah penduduk. Terlebih lagi alternatif provider membuat ini semakin mudah.
Dalam keseharian, handphone adalah kebutuhan. Orang seakan tak bisa hidup tanpa alat ini. Seperti halnya teman dalam sepi, handphone dapat menjadi teman penghibur. Vitur canggih seperti apel, android dan Blackberry, mengambil peran signifikan dalam hal ini. Bisa dibayangkan orang begitu betah dengan apel, android ataupun  Blackberinya sampai berjam-jam.
Teknologi dan Erosi Sitem Sosial
            Seperti hukum kekekalan energi; energi tidak dapat diciptakan, ataupun dimusnahkan, tetapi dimanfaatkan. Karena energi adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan. Begitu juga teknologi, tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, tapi dapat dimanfaatkan. Karena itu teknologi bagian dari keniscayaan.
            Bagaimana cara orang memanfaatkan itulah yang menjadikan fungsi teknologi itu berbeda-beda. Ibarat pisau kalau digunakan oleh orang tepat dan baik, maka ia akan melakukan sesuatu yang tepat dan baik dengan pisau tersebut. Akan tetapi kalau pisau itu dipakai oleh orang yang tidak tepat ataupun tidak baik bisa jadi adalah hal sebaliknya. Variabel pemanfaatan ini kemudian menjadi signifikansi tersendiri dalam pemanfaatan teknologi. Teknologi yang dimaksud dalam tulisan ini tidak semua teknologi, tetapi salah satu macam teknologi, yaitu teknologi komunikasi, lebih spesifik lagi yaitu handphone.
            Pemanfaatan Handphone dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana dijelaskan diatas tidak dapat dihindari. Tetapi ada variabel lain yang harus diperhatikan, yaitu bagaimana cara memanfaatkan Handphone.  Pemanfaatan harusnya tidak mengeleminasi atau menghilankan moral, etika ataupun budaya/karakter lokal. Belakangan ini ketergantungan orang terhadap handphone melampaui batas over. Subtansi dari adanya Handphone menjadi hilang, tereleminasi dengan aplikasi sosial yang malah membunuh kehidupan sosial sebenarnya.
            Bisa dibayangkan bila seorang Ibu rumah tangga yang begitu gandrung terhadap Handphone, dan meluangkan begitu banyak waktunya menunduk melototin Handphone, kapan waktunya untuk mengurus anak. Pastilah akan menyita waktunya. Padahal sejatinya seorang Ibu memperhatikan perkembangan anaknya walaupun mencapai kedewasaan.
            Terlebih lagi dikalangan anak muda (remaja) handphone menjadi Tuhan baru. Bahkan perintah-perintah Tuhan dilanggar karena menuruti perintah Tuhan barunya. Dalam tingkat over, segala aturan kesusilan bisa dilanggar karena menuruti firman Handphone (sebagai Tuhan barunya). Erosi sosial pun semakin mejadi-jadi, orang memang terhubung secara elektronik, tetapi lupa akan indahnya bertemu langsung. Sehingga ia terpenjara tidak hanya fisiknya tapi juga akalnya oleh gemerlapnya dunia dibalik terangnya cahaya LCD handphone. Bagian dari ketaatan terhadap Tuhan Barunya, banyak orang yang rela Menunduk berjam-jam atapun berhari hanya untuk melototin LCD handphonenya.. Sudikah kiranya mereka dikatakan sebagai “generasi tunduk kebawah”? Allahu A’lam





Sumber Gambar: http://www.123rf.com/photo_10761828_cute-girl-holding-handphone-with-isolated bacground.html


Sabtu, 08 Desember 2012

Less Trust: Problem Masyarakat Negara Dunia Ketiga



Bagaikan artis sedang naik daun, begitulah kabar Aceng HM Fikri yang mendadak terkenal diberbagai media massa. Beberapa hari menjadi headline dan tranding topic diberbagai media, kasus yang menimpa sang bupati ini, ternyata tidak hanya menjadi perhatian  public, tapi juga menjadi perilaku sebagian masyarakat. Bahkan lebih mengejutkan lagi kabar terakhir kisah nikah singkat empat hari sang Bupati dikalahkan oleh seorang jawara dari Kabupaten Gowa, Muhammad Yunus Bin Jafar yang menikah dalam waktu enam belas jam kemudia menceraikan istrinya (kompas, 8/12/12).
Tidak kalah ramainya diperbincangankan orang dan menjadi tranding topic tersendiri, kisah panjang Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Malarangen, yang akhirnya berujung pada pengunduran diri. Semua menjadi buah bibir ditengah masyarakat dengan segala sudut pandangan entah benar atau hanya sekedar asumsi. Kemudian mereka dengan gampangnya berspekulasi apa sebenarnya yang menjadi permasalah di Negara ini.
Karena semakin kompleksnya permasalahan yang dihadapi, semakin sulit mecari apa sebenarnya akar masalah yang selama ini terjadi. Spekulasi pun semakin menjadi-jadi, ada yang bilang ini masalah kesadaran hukum, kehancuran moral, atau bahkan sampai pada hal terkecil yaitu keluarga. Spekulasi-spekulasi ini kemudian menjadi bahan untuk meghakimi sementara atas fenomena yang terjadi, yang kadang menghilangkan kepercayaan (trus) sebagian masyarakat.

Less Trust
            Meminjam pendapatnya Francis Fukuyama dari bukunya yang berjudul Trust: The Social Virtues and The Creation of Prosperity (1995) bahwa ada perbedaan yang mendasar antara masyarakat dengan kepercayaan social (trust) yang  tinggi dengan  masyarakat yang kehilangan atau rendah tingkat kepercayaan sosialnya (less Trust, pen). Perbedaan itu terletak pada ketaatan mereka terhadap hukum, moral, sistem social, etika keagamaan, dan norma-norma kebaikan lainnya.
            Pada masyarakat yang tinggi kepercayaannya Sosialnya (Trust) mereka akan cenderung akan patuh terhadap hukum, dan aturan-aturan lainnya yang mengatur baik secara social masyarakat maupun Negara. Sedangkan yang terjadi pada masyarakat dengan tingkat kepercayaan social yang rendah (Less Trust)  adalah kebalikannya.
            Rendahnya Tingkat kepercayaan Sosial yang banyak terjadi di Negara Dunia ketiga ini mengakibatkan hilangnya modal sosial (social capital) dan kebajikan sosial ditengah masyarakat. Mungkin Negara dunia ketiga yang diatur begitu lama diatur aturan penjajah yang hanya menguntungkan penjajah, maka masyarakat pun menjadi lemah kepercayaannya terhadap hukum. Bisa disurvei seberapa besar kemudian tingkat pengetahuan masyarakat terhadap hukum dan kemudian pengetahuan itu menjadi modal sosial yang menjadikan mereka percaya terhadap hukumnya.
            Kurangnya tingkat kepercayaan sosial ini dalam waktu yang lama, akan berakibat rusaknya tatanan sistem sosial, lemahnya kepatuhan terhadap etika, norma apalagi terhadap hukum. Karena itu, jangan heran kalau problem-problem yang selama ini terjadi dinegara Dunia ketiga, apalagi Indonesia, menurut penulis karena hilang atau rendahnya Tingkat kepercayaan (Less Trust) sosial ini. Oleh karena upaya yang harus dilakukan untuk mengantisipasi hal ini, tidak hanya dengan solusi Struktural (Structural solving) tapi juga ada hal-hal Kultural (Cultural Solving) yang harus dibenahi, contohnya kecilnya adalah kultur keluarga yang membentuk masyarakat. Allahu’alam

Sumber Gambar: http://withdee.wordpress.com/